Selasa, 10 Oktober 2017

Mencetak Generasi Muda Berbudi Luhur

Feature dengan Sub tema: “Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar” oleh Anastasia Sundah
Mencetak generasi muda berbudi luhur
Dari ucapannyalah engkau dapat melihat karakter seseorang. “Nama baik lebih berharga daripada emas” Nama baik melekat pada seseorang yang berbudi luhur. Engkau dapat membeli suatu barang, namun karakter dibentuk melalui suatu perjalanan panjang. Kita tidak dapat membayar untuk mempercepat proses dalam menghasilkan karakter yang matang.
Akhlak atau budi pekerti adalah arti dari karakter. Namun, dewasa ini seringkali kata karakter didefinisikan sebagai keluhuran budi pekerti dari suatu insan. Pergeseran nilai dalam masyarakat, membuat karakter memiliki konotasi positif. Sekolah, rumah, dan tempat ibadah adalah tempat-tempat penggodokan seseorang untuk menjadi pribadi yang berkarakter.
Adalah seorang guru yang sudah mengabdikan seluruh masa mudanya untuk Indonesia. Ia kini sudah memiliki tiga anak. Nama pahlawan ini adalah Ibu Merpaty.  Ia adalah seorang guru yang kokoh menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam hidupnya. “Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai fondasinya. Fondasi Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah cerminan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila adalah karakter Indonesia”, jelas beliau. Sehari-hari dengan setia ia bekerja sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta. Ia menggeluti profesi ini sebagai rasa cintanya terhadap tanah air Indonesia. Lebih jauh ia menambahkan, “Namun akhir-akhir ini, Indonesia bak bayi yang sedang merangkak dan mencoba berjalan. Saat ia sementara stabil melangkah, senggolan di sekelilingnya seakan-akan mau membuatnya roboh. Sangat menyayat hati, di usia senjanya, Indonesia masih tertatih dalam melangkah.”
“Bangsa ini membutuhkan generasi yang jujur dan tulus. Dua hal ini sangat sulit, bahkan cenderung langka di Indonesia karena pesona harta dan tahta lebih menawan hati. Saya tidak mau bertutur lancang, namun inilah yang saya cermati sedang terjadi di Indonesia. Saya mendidik bukan untuk perut. Karena lebih baik menjadi pengusaha daripada menjadi seorang guru. Guru tidak akan membuatmu kaya secara materi. Namun, saya mendidik untuk memperkaya Indonesia, yaitu untuk mencetak generasi yang peduli pada Indonesia. Peduli artinya generasi tersebut rela berkorban dan tetap jujur berpegang kepada kebenaran, yang tidak akan pernah menjual harga dirinya walaupun di depannya tersuguh sebongkah berlian.” Cahaya mata ibu ini berbinar-binar, sembari ia bertutur tentang cita-citanya yang tulus bagi Indonesia.
Pembicaraan ini terus berlanjut hingga tiba di suatu pertanyaan, “Bu, mengapa perlu menanamkan dasar tentang karakter yang kuat untuk anak sekolah dasar? Bukankah ini terlalu berat untuk anak usia sekolah dasar?” Dengan pasti ibu Merpaty menjawab, “Sekolah dasar adalah fondasi. Tanamkanlah hal-hal yang akan di bawah anak sampai pada akhir hayatnya. Siapa lagi yang akan mengajarkan mereka tentang karakter yang luhur kalau bukan kita? Justru anak-anak inilah yang akan mengangkat Indonesia dari keterpurukannya di kemudian hari. Memang ada tantangan bagi guru yaitu menyederhanakan bahasa kompleks agar dapat dimengerti oleh siswa. Bila dasarnya kokoh, anak inilah yang tak akan teguh berjuang bagi Indonesia.”
Pembicaraan ini sungguh menggelik. Menimbulkan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana menguatkan pendidikan karakter di sekolah dasar?

Wajah Pendidikan Indonesia
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dituliskan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah sebuah proses. Proses sangat erat kaitannya dengan waktu. Tidak ada sesuatu yang instan dalam mendidik. Ada harga yang harus dibayar. Bukan dengan uang namun dengan kesetiaan pada proses penempaan tersebut.
Perubahan dapat dikatakan sebagai suatu perubahan bila benar-benar terjadi sesuatu yang berbeda daripada sebelumnya. Proses belajar dan mengajar sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Proses pendidikan di Indonesia melibatkan anak, orang tua, sekolah, dan pemerintah. Namun kini ada beberapa instansi pendidikan yang berdiri tanpa campur tangan pemerintah di dalamnya.
Pendidikan di Indonesia terbagi kedalam beberapa jenjang. Pendidikan juga sangat menyita perhatian pemerintah sehingga tak ayal jika pemerintah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk bidang yang satu ini. Tahun 2016 masih heboh tentang pro dan kontra ujian nasional, yang alhasil tetap diadakan. Pendidikan Indonesia juga terkenal dengan variasi kurikulumnya dari tahun ke tahun. Pemerintah terus melakukan terobosan. Awalnya tercanangkan “Wajar”, yaitu kegiatan wajib belajar 6 tahun, lalu 9 tahun kemudian berubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Berbagai kurikulum disusun Kurikulum Sekolah Dasar, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan terakhir dikenal dengan istilah “Kurtilas” (Kurikulum 2013). Kurikulum 2013 dipercaya adalah langkah terbaik, karena sudah disisipkan pendidikan karakter pada setiap aspek (materi/bahan ajar). Pendidikan karakter kini bergema di setiap sekolah. Setiap mata pelajaran harus beracu pada pendidikan karakter. Berbagai upaya terus dilakukan. Refleksi dan inovasi terus dilakukan untuk mencetak generasi yang beradab.
Sekolah Dasar dan Pendidikan Karakter
Sekolah dasar adalah tempat anak-anak dibekali setelah jenjang Taman Kanak-Kanak. Bahkan ada beberapa orang tua yang tidak memasukkan anak-anak ke Taman Kanak-Kanak melainkan langsung ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pada jenjang ini, anak-anak diperlengkapi dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar. Dasar adalah pokok atau pangkal. Kuatnya suatu pohon dapat dilihat dari kekuatan akar yang menopangnya. Kekuatan seorang anak dapat dilihat bagaimana peran orang tua dan guru dalam menanamkan pendidikan dasar kepada anak. Sekolah dasar yang hanya berpatokan pada nilai adalah sekolah dasar yang melupakan hal esensi dalam hidup. Bagaikan kapal yang sedang berlayar namun tidak mengerti tujuannya.
Pada dasarnya tidak ada salahnya mencetak suatu generasi yang unggul dari segi akademik. Namun, adalah sungguh sangat berbahaya jika generasi yang tercetak adalah generasi yang pintar namun tak berkarakter. Pintar namun tak berbudi pekerti. Pintar, namun tak peka dengan kebutuhan orang sekitarnya. Lantas untuk apa kepintaran yang telah ia peroleh nantinya. Maka, pendidikan karakter dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang luhur bagi siswa, agar ia dapat berdampak bagi nusa dan bangsa. Artinya, sekolah tidak sedang mencetak manusia yang berhati dingin. Namun, sekolah sedang melahirkan generasi yang mau memperbaiki kerusakan di bangsa ini. Generasi yang tergelitik atas ketidakadilan. Generasi yang tidak akan bersenang-senang atas kemiskinan yang menimpa orang lain, intinya generasi yang mau berjuang untuk mencapai Indonesia yang lebih baik lagi. Setiap aktivitas pembelajaran di sekolah dasar hendaknya dirancang untuk meningkatkan karakter siswa. Sehingga anak tidak menjadi pribadi yang egois, melainkan pribadi yang mau berdampak bagi orang lain.
Akar Karakter Bangsa Indonesia
Indonesia adalah negara yang sedang berkembang. Saat berkembang, Indonesia cenderung melirik hal baik yang dapat dipelajari untuk diaplikasikan di negara ini. Terbukanya dunia sekarang membuat bangsa ini dilema. Disatu sisi kita harus mengikuti perkembangan, disisi lain ada perkembangan yang bertolak belakang dengan dasar bangsa. Indonesia harus memiliki filter yang kuat untuk menyaring segala sesuatu yang sedang mencoba mempengaruhi bangsa ini.
Harus ada dasar yang teguh yang tidak akan mengombang-ambingkan Indonesia.
Inilah yang menjadi buah pemikiran sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kemajemukan adalah kekayaan, namun jika tidak terus ditopang pada suatu landasan yang kuat, kemajemukan dapat menghancurkan. Untuk itulah Indonesia menyatakan Pancasila sebagai dasar negara. Akar karakter bangsa Indonesia adalah Pancasila.
Alhasil, penguatan karakter bangsa berakar dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. 5 sila yang adalah darah daging bangsa yang tidak boleh dianggap remeh. Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, serta Keadilan adalah 5 nilai dasar kehidupan yang membentuk sebuah pribadi sehingga ia dapat dikatakan sebagai pribadi yang berkarakter. Pemahaman yang kokoh pada pancasila adalah alat filter yang kuat terhadap serangan luar dan dalam yang dapat menggoyahkan Indonesia.
Hal ini sudah disadari sejak dulu sehingga muncul mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila akhirnya berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan sekarang namanya menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.
Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
“Tindakan nyata lebih berdampak daripada teori yang indah”
Karakter yang luhur dari seorang guru di dalam kelas, berbicara lebih keras daripada orasi sekelompok massa di depan umum.
Tidak dapat dipungkiri bahwa teori masih berdampak, namun perilaku sungguh lebih mendarat. Apalagi di sekolah dasar. Suatu tindakan sederhana berbicara lebih banyak daripada suatu ceramah yang berlangsung selama berjam-jam. Siswa-siswa di sekolah dasar cenderung lebih memahami sesuatu yang konkret, daripada sesuatu yang abstrak. Pohon yang baik adalah pohon yang menghasilkan buah. Bagaimana kemurnian hati seseorang, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Begitu pula dengan karakter. Baik tidaknya karakter seseorang dapat dilihat dari pilihan kata dan sikap yang benar yang ia tunjukkan dalam kesehariannya.
Penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar hanya dapat terjadi bila seluruh pihak yang tergabung ke dalam lingkungan sekolah sepakat untuk bersama-sama mengaplikasikan nilai luhur Pancasila melalui tutur kata dan tindak-tanduk dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diaplikasikan di sekolah harus selaras dengan lingkungan rumah, sehingga anak dapat melihat contoh nyata berbudi pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kesatuan hati dari setiap pihak, baik sekolah, rumah, dan masyarakat dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila sebagai budaya, maka itu akan menjadi kebiasaan, yang tidak akan menjadi beban untuk diterapkan. Mempraktikkan nilai-nilai Pancasila memang harus dilandasi dengan ketulusan, serta memahami cerita dibalik setiap nilai. Dengan demikian, kita akan memiliki sudut pandang yang benar akan penerapan setiap nilai tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, seyogianya kita terus berjuang untuk menghidupi setiap nilai dalam Pancasila.
Pihak sekolah dan orang tua harus bahu-membahu mencetak generasi berbudi luhur. Bangsa Indonesia bukan milik seorang saja. Bangsa Indonesia adalah milik semua rakyat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Karakter Indonesia yang terkenal ramah, tepa salira, gotong royong dan tenggang rasa harus terus dilestarikan. Karena jika itu tidak dilestarikan hal-hal itu hanya akan menjadi bahan tabu di kemudian hari, yang hanya akan dikonsumsi sebagai dongeng atau cerita fiksi untuk generasi selanjutnya.
Siapa lagi yang mau bertindak kalau bukan dimulai dari kita. Penguatan nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar harus terus kita gumuli bersama. Bangsa ini membutuhkan generasi yang berakhlak mulia. Karena generasi luhur yang berpegang pada kebenaran adalah generasi yang akan membawa cahaya agar bangsa ini tetap memegang teguh identitasnya dan tidak disesatkan oleh pengikisan karakter yang mencoba-coba menggerogoti fondasi bangsa Indonesia.
Hidup Indonesia!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar