Feature dengan Sub tema:
“Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar” oleh Anastasia Sundah
Mencetak
generasi muda berbudi luhur
Dari
ucapannyalah engkau dapat melihat karakter seseorang. “Nama baik lebih berharga
daripada emas” Nama baik melekat pada seseorang yang berbudi luhur. Engkau
dapat membeli suatu barang, namun karakter dibentuk melalui suatu perjalanan
panjang. Kita tidak dapat membayar untuk mempercepat proses dalam menghasilkan
karakter yang matang.
Akhlak atau budi
pekerti adalah arti dari karakter. Namun, dewasa ini seringkali kata karakter
didefinisikan sebagai keluhuran budi pekerti dari suatu insan. Pergeseran nilai
dalam masyarakat, membuat karakter memiliki konotasi positif. Sekolah, rumah,
dan tempat ibadah adalah tempat-tempat penggodokan seseorang untuk menjadi
pribadi yang berkarakter.
Adalah seorang
guru yang sudah mengabdikan seluruh masa mudanya untuk Indonesia. Ia kini sudah
memiliki tiga anak. Nama pahlawan ini adalah Ibu Merpaty. Ia adalah seorang guru yang kokoh menjunjung
tinggi nilai-nilai Pancasila dalam hidupnya. “Bangsa yang besar, adalah bangsa
yang menghargai fondasinya. Fondasi Indonesia adalah Pancasila. Pancasila
adalah cerminan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila adalah karakter
Indonesia”, jelas beliau. Sehari-hari dengan setia ia bekerja sebagai guru mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa
Indonesia di sebuah sekolah swasta. Ia menggeluti profesi ini sebagai rasa
cintanya terhadap tanah air Indonesia. Lebih jauh ia menambahkan, “Namun
akhir-akhir ini, Indonesia bak bayi yang sedang merangkak dan mencoba berjalan.
Saat ia sementara stabil melangkah, senggolan di sekelilingnya seakan-akan mau
membuatnya roboh. Sangat menyayat hati, di usia senjanya, Indonesia masih tertatih
dalam melangkah.”
“Bangsa ini
membutuhkan generasi yang jujur dan tulus. Dua hal ini sangat sulit, bahkan
cenderung langka di Indonesia karena pesona harta dan tahta lebih menawan hati.
Saya tidak mau bertutur lancang, namun inilah yang saya cermati sedang terjadi
di Indonesia. Saya mendidik bukan untuk perut. Karena lebih baik menjadi
pengusaha daripada menjadi seorang guru. Guru tidak akan membuatmu kaya secara
materi. Namun, saya mendidik untuk memperkaya Indonesia, yaitu untuk mencetak
generasi yang peduli pada Indonesia. Peduli artinya generasi tersebut rela
berkorban dan tetap jujur berpegang kepada kebenaran, yang tidak akan pernah
menjual harga dirinya walaupun di depannya tersuguh sebongkah berlian.” Cahaya
mata ibu ini berbinar-binar, sembari ia bertutur tentang cita-citanya yang
tulus bagi Indonesia.
Pembicaraan ini
terus berlanjut hingga tiba di suatu pertanyaan, “Bu, mengapa perlu menanamkan
dasar tentang karakter yang kuat untuk anak sekolah dasar? Bukankah ini terlalu
berat untuk anak usia sekolah dasar?” Dengan pasti ibu Merpaty menjawab,
“Sekolah dasar adalah fondasi. Tanamkanlah hal-hal yang akan di bawah anak
sampai pada akhir hayatnya. Siapa lagi yang akan mengajarkan mereka tentang
karakter yang luhur kalau bukan kita? Justru anak-anak inilah yang akan
mengangkat Indonesia dari keterpurukannya di kemudian hari. Memang ada
tantangan bagi guru yaitu menyederhanakan bahasa kompleks agar dapat dimengerti
oleh siswa. Bila dasarnya kokoh, anak inilah yang tak akan teguh berjuang bagi
Indonesia.”
Pembicaraan ini sungguh
menggelik. Menimbulkan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana menguatkan
pendidikan karakter di sekolah dasar?
Wajah Pendidikan
Indonesia
Dalam kamus
besar bahasa Indonesia dituliskan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah sebuah
proses. Proses sangat erat kaitannya dengan waktu. Tidak ada sesuatu yang
instan dalam mendidik. Ada harga yang harus dibayar. Bukan dengan uang namun
dengan kesetiaan pada proses penempaan tersebut.
Perubahan dapat
dikatakan sebagai suatu perubahan bila benar-benar terjadi sesuatu yang berbeda
daripada sebelumnya. Proses belajar dan mengajar sangat erat kaitannya dengan
dunia pendidikan. Proses pendidikan di Indonesia melibatkan anak, orang tua,
sekolah, dan pemerintah. Namun kini ada beberapa instansi pendidikan yang
berdiri tanpa campur tangan pemerintah di dalamnya.
Pendidikan di
Indonesia terbagi kedalam beberapa jenjang. Pendidikan juga sangat menyita
perhatian pemerintah sehingga tak ayal jika pemerintah mengalokasikan dana yang
cukup besar untuk bidang yang satu ini. Tahun 2016 masih heboh tentang pro dan
kontra ujian nasional, yang alhasil tetap diadakan. Pendidikan Indonesia juga
terkenal dengan variasi kurikulumnya dari tahun ke tahun. Pemerintah terus
melakukan terobosan. Awalnya tercanangkan “Wajar”, yaitu kegiatan wajib belajar
6 tahun, lalu 9 tahun kemudian berubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Berbagai
kurikulum disusun Kurikulum Sekolah Dasar, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994,
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), dan terakhir dikenal dengan istilah “Kurtilas” (Kurikulum 2013).
Kurikulum 2013 dipercaya adalah langkah terbaik, karena sudah disisipkan
pendidikan karakter pada setiap aspek (materi/bahan ajar). Pendidikan karakter
kini bergema di setiap sekolah. Setiap mata pelajaran harus beracu pada
pendidikan karakter. Berbagai upaya terus dilakukan. Refleksi dan inovasi terus
dilakukan untuk mencetak generasi yang beradab.
Sekolah Dasar
dan Pendidikan Karakter
Sekolah dasar
adalah tempat anak-anak dibekali setelah jenjang Taman Kanak-Kanak. Bahkan ada
beberapa orang tua yang tidak memasukkan anak-anak ke Taman Kanak-Kanak
melainkan langsung ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pada jenjang ini,
anak-anak diperlengkapi dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar. Dasar adalah
pokok atau pangkal. Kuatnya suatu pohon dapat dilihat dari kekuatan akar yang
menopangnya. Kekuatan seorang anak dapat dilihat bagaimana peran orang tua dan
guru dalam menanamkan pendidikan dasar kepada anak. Sekolah dasar yang hanya
berpatokan pada nilai adalah sekolah dasar yang melupakan hal esensi dalam
hidup. Bagaikan kapal yang sedang berlayar namun tidak mengerti tujuannya.
Pada dasarnya
tidak ada salahnya mencetak suatu generasi yang unggul dari segi akademik.
Namun, adalah sungguh sangat berbahaya jika generasi yang tercetak adalah
generasi yang pintar namun tak berkarakter. Pintar namun tak berbudi pekerti.
Pintar, namun tak peka dengan kebutuhan orang sekitarnya. Lantas untuk apa
kepintaran yang telah ia peroleh nantinya. Maka, pendidikan karakter
dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang luhur bagi siswa, agar ia dapat berdampak
bagi nusa dan bangsa. Artinya, sekolah tidak sedang mencetak manusia yang
berhati dingin. Namun, sekolah sedang melahirkan generasi yang mau memperbaiki
kerusakan di bangsa ini. Generasi yang tergelitik atas ketidakadilan. Generasi
yang tidak akan bersenang-senang atas kemiskinan yang menimpa orang lain,
intinya generasi yang mau berjuang untuk mencapai Indonesia yang lebih baik
lagi. Setiap aktivitas pembelajaran di sekolah dasar hendaknya dirancang untuk
meningkatkan karakter siswa. Sehingga anak tidak menjadi pribadi yang egois,
melainkan pribadi yang mau berdampak bagi orang lain.
Akar Karakter
Bangsa Indonesia
Indonesia adalah
negara yang sedang berkembang. Saat berkembang, Indonesia cenderung melirik hal
baik yang dapat dipelajari untuk diaplikasikan di negara ini. Terbukanya dunia
sekarang membuat bangsa ini dilema. Disatu sisi kita harus mengikuti
perkembangan, disisi lain ada perkembangan yang bertolak belakang dengan dasar
bangsa. Indonesia harus memiliki filter yang kuat untuk menyaring segala
sesuatu yang sedang mencoba mempengaruhi bangsa ini.
Harus ada dasar yang teguh yang
tidak akan mengombang-ambingkan Indonesia.
Inilah yang
menjadi buah pemikiran sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kemajemukan
adalah kekayaan, namun jika tidak terus ditopang pada suatu landasan yang kuat,
kemajemukan dapat menghancurkan. Untuk itulah Indonesia menyatakan Pancasila
sebagai dasar negara. Akar karakter bangsa Indonesia adalah Pancasila.
Alhasil,
penguatan karakter bangsa berakar dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. 5 sila
yang adalah darah daging bangsa yang tidak boleh dianggap remeh. Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, serta Keadilan adalah 5 nilai dasar
kehidupan yang membentuk sebuah pribadi sehingga ia dapat dikatakan sebagai
pribadi yang berkarakter. Pemahaman yang kokoh pada pancasila adalah alat
filter yang kuat terhadap serangan luar dan dalam yang dapat menggoyahkan
Indonesia.
Hal ini sudah
disadari sejak dulu sehingga muncul mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila
akhirnya berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan
sekarang namanya menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.
Penguatan
Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
“Tindakan nyata lebih berdampak
daripada teori yang indah”
Karakter yang luhur dari seorang
guru di dalam kelas, berbicara lebih keras daripada orasi sekelompok massa di
depan umum.
Tidak dapat
dipungkiri bahwa teori masih berdampak, namun perilaku sungguh lebih mendarat.
Apalagi di sekolah dasar. Suatu tindakan sederhana berbicara lebih banyak
daripada suatu ceramah yang berlangsung selama berjam-jam. Siswa-siswa di
sekolah dasar cenderung lebih memahami sesuatu yang konkret, daripada sesuatu
yang abstrak. Pohon yang baik adalah pohon yang menghasilkan buah. Bagaimana
kemurnian hati seseorang, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Begitu pula
dengan karakter. Baik tidaknya karakter seseorang dapat dilihat dari pilihan
kata dan sikap yang benar yang ia tunjukkan dalam kesehariannya.
Penguatan
pendidikan karakter di sekolah dasar hanya dapat terjadi bila seluruh pihak
yang tergabung ke dalam lingkungan sekolah sepakat untuk bersama-sama
mengaplikasikan nilai luhur Pancasila melalui tutur kata dan tindak-tanduk
dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diaplikasikan di sekolah harus selaras
dengan lingkungan rumah, sehingga anak dapat melihat contoh nyata berbudi
pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kesatuan
hati dari setiap pihak, baik sekolah, rumah, dan masyarakat dalam mempraktikkan
nilai-nilai Pancasila sebagai budaya, maka itu akan menjadi kebiasaan, yang
tidak akan menjadi beban untuk diterapkan. Mempraktikkan nilai-nilai Pancasila
memang harus dilandasi dengan ketulusan, serta memahami cerita dibalik setiap
nilai. Dengan demikian, kita akan memiliki sudut pandang yang benar akan
penerapan setiap nilai tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, seyogianya
kita terus berjuang untuk menghidupi setiap nilai dalam Pancasila.
Pihak sekolah
dan orang tua harus bahu-membahu mencetak generasi berbudi luhur. Bangsa
Indonesia bukan milik seorang saja. Bangsa Indonesia adalah milik semua rakyat
yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Karakter Indonesia yang terkenal
ramah, tepa salira, gotong royong dan tenggang rasa harus terus dilestarikan.
Karena jika itu tidak dilestarikan hal-hal itu hanya akan menjadi bahan tabu di
kemudian hari, yang hanya akan dikonsumsi sebagai dongeng atau cerita fiksi
untuk generasi selanjutnya.
Siapa lagi yang
mau bertindak kalau bukan dimulai dari kita. Penguatan nilai Pendidikan
Karakter di Sekolah Dasar harus terus kita gumuli bersama. Bangsa ini
membutuhkan generasi yang berakhlak mulia. Karena generasi luhur yang berpegang
pada kebenaran adalah generasi yang akan membawa cahaya agar bangsa ini tetap
memegang teguh identitasnya dan tidak disesatkan oleh pengikisan karakter yang
mencoba-coba menggerogoti fondasi bangsa Indonesia.
Hidup Indonesia!