Selasa, 10 Oktober 2017

Mencetak Generasi Muda Berbudi Luhur

Feature dengan Sub tema: “Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar” oleh Anastasia Sundah
Mencetak generasi muda berbudi luhur
Dari ucapannyalah engkau dapat melihat karakter seseorang. “Nama baik lebih berharga daripada emas” Nama baik melekat pada seseorang yang berbudi luhur. Engkau dapat membeli suatu barang, namun karakter dibentuk melalui suatu perjalanan panjang. Kita tidak dapat membayar untuk mempercepat proses dalam menghasilkan karakter yang matang.
Akhlak atau budi pekerti adalah arti dari karakter. Namun, dewasa ini seringkali kata karakter didefinisikan sebagai keluhuran budi pekerti dari suatu insan. Pergeseran nilai dalam masyarakat, membuat karakter memiliki konotasi positif. Sekolah, rumah, dan tempat ibadah adalah tempat-tempat penggodokan seseorang untuk menjadi pribadi yang berkarakter.
Adalah seorang guru yang sudah mengabdikan seluruh masa mudanya untuk Indonesia. Ia kini sudah memiliki tiga anak. Nama pahlawan ini adalah Ibu Merpaty.  Ia adalah seorang guru yang kokoh menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam hidupnya. “Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai fondasinya. Fondasi Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah cerminan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila adalah karakter Indonesia”, jelas beliau. Sehari-hari dengan setia ia bekerja sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta. Ia menggeluti profesi ini sebagai rasa cintanya terhadap tanah air Indonesia. Lebih jauh ia menambahkan, “Namun akhir-akhir ini, Indonesia bak bayi yang sedang merangkak dan mencoba berjalan. Saat ia sementara stabil melangkah, senggolan di sekelilingnya seakan-akan mau membuatnya roboh. Sangat menyayat hati, di usia senjanya, Indonesia masih tertatih dalam melangkah.”
“Bangsa ini membutuhkan generasi yang jujur dan tulus. Dua hal ini sangat sulit, bahkan cenderung langka di Indonesia karena pesona harta dan tahta lebih menawan hati. Saya tidak mau bertutur lancang, namun inilah yang saya cermati sedang terjadi di Indonesia. Saya mendidik bukan untuk perut. Karena lebih baik menjadi pengusaha daripada menjadi seorang guru. Guru tidak akan membuatmu kaya secara materi. Namun, saya mendidik untuk memperkaya Indonesia, yaitu untuk mencetak generasi yang peduli pada Indonesia. Peduli artinya generasi tersebut rela berkorban dan tetap jujur berpegang kepada kebenaran, yang tidak akan pernah menjual harga dirinya walaupun di depannya tersuguh sebongkah berlian.” Cahaya mata ibu ini berbinar-binar, sembari ia bertutur tentang cita-citanya yang tulus bagi Indonesia.
Pembicaraan ini terus berlanjut hingga tiba di suatu pertanyaan, “Bu, mengapa perlu menanamkan dasar tentang karakter yang kuat untuk anak sekolah dasar? Bukankah ini terlalu berat untuk anak usia sekolah dasar?” Dengan pasti ibu Merpaty menjawab, “Sekolah dasar adalah fondasi. Tanamkanlah hal-hal yang akan di bawah anak sampai pada akhir hayatnya. Siapa lagi yang akan mengajarkan mereka tentang karakter yang luhur kalau bukan kita? Justru anak-anak inilah yang akan mengangkat Indonesia dari keterpurukannya di kemudian hari. Memang ada tantangan bagi guru yaitu menyederhanakan bahasa kompleks agar dapat dimengerti oleh siswa. Bila dasarnya kokoh, anak inilah yang tak akan teguh berjuang bagi Indonesia.”
Pembicaraan ini sungguh menggelik. Menimbulkan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana menguatkan pendidikan karakter di sekolah dasar?

Wajah Pendidikan Indonesia
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dituliskan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah sebuah proses. Proses sangat erat kaitannya dengan waktu. Tidak ada sesuatu yang instan dalam mendidik. Ada harga yang harus dibayar. Bukan dengan uang namun dengan kesetiaan pada proses penempaan tersebut.
Perubahan dapat dikatakan sebagai suatu perubahan bila benar-benar terjadi sesuatu yang berbeda daripada sebelumnya. Proses belajar dan mengajar sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Proses pendidikan di Indonesia melibatkan anak, orang tua, sekolah, dan pemerintah. Namun kini ada beberapa instansi pendidikan yang berdiri tanpa campur tangan pemerintah di dalamnya.
Pendidikan di Indonesia terbagi kedalam beberapa jenjang. Pendidikan juga sangat menyita perhatian pemerintah sehingga tak ayal jika pemerintah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk bidang yang satu ini. Tahun 2016 masih heboh tentang pro dan kontra ujian nasional, yang alhasil tetap diadakan. Pendidikan Indonesia juga terkenal dengan variasi kurikulumnya dari tahun ke tahun. Pemerintah terus melakukan terobosan. Awalnya tercanangkan “Wajar”, yaitu kegiatan wajib belajar 6 tahun, lalu 9 tahun kemudian berubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Berbagai kurikulum disusun Kurikulum Sekolah Dasar, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan terakhir dikenal dengan istilah “Kurtilas” (Kurikulum 2013). Kurikulum 2013 dipercaya adalah langkah terbaik, karena sudah disisipkan pendidikan karakter pada setiap aspek (materi/bahan ajar). Pendidikan karakter kini bergema di setiap sekolah. Setiap mata pelajaran harus beracu pada pendidikan karakter. Berbagai upaya terus dilakukan. Refleksi dan inovasi terus dilakukan untuk mencetak generasi yang beradab.
Sekolah Dasar dan Pendidikan Karakter
Sekolah dasar adalah tempat anak-anak dibekali setelah jenjang Taman Kanak-Kanak. Bahkan ada beberapa orang tua yang tidak memasukkan anak-anak ke Taman Kanak-Kanak melainkan langsung ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pada jenjang ini, anak-anak diperlengkapi dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar. Dasar adalah pokok atau pangkal. Kuatnya suatu pohon dapat dilihat dari kekuatan akar yang menopangnya. Kekuatan seorang anak dapat dilihat bagaimana peran orang tua dan guru dalam menanamkan pendidikan dasar kepada anak. Sekolah dasar yang hanya berpatokan pada nilai adalah sekolah dasar yang melupakan hal esensi dalam hidup. Bagaikan kapal yang sedang berlayar namun tidak mengerti tujuannya.
Pada dasarnya tidak ada salahnya mencetak suatu generasi yang unggul dari segi akademik. Namun, adalah sungguh sangat berbahaya jika generasi yang tercetak adalah generasi yang pintar namun tak berkarakter. Pintar namun tak berbudi pekerti. Pintar, namun tak peka dengan kebutuhan orang sekitarnya. Lantas untuk apa kepintaran yang telah ia peroleh nantinya. Maka, pendidikan karakter dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang luhur bagi siswa, agar ia dapat berdampak bagi nusa dan bangsa. Artinya, sekolah tidak sedang mencetak manusia yang berhati dingin. Namun, sekolah sedang melahirkan generasi yang mau memperbaiki kerusakan di bangsa ini. Generasi yang tergelitik atas ketidakadilan. Generasi yang tidak akan bersenang-senang atas kemiskinan yang menimpa orang lain, intinya generasi yang mau berjuang untuk mencapai Indonesia yang lebih baik lagi. Setiap aktivitas pembelajaran di sekolah dasar hendaknya dirancang untuk meningkatkan karakter siswa. Sehingga anak tidak menjadi pribadi yang egois, melainkan pribadi yang mau berdampak bagi orang lain.
Akar Karakter Bangsa Indonesia
Indonesia adalah negara yang sedang berkembang. Saat berkembang, Indonesia cenderung melirik hal baik yang dapat dipelajari untuk diaplikasikan di negara ini. Terbukanya dunia sekarang membuat bangsa ini dilema. Disatu sisi kita harus mengikuti perkembangan, disisi lain ada perkembangan yang bertolak belakang dengan dasar bangsa. Indonesia harus memiliki filter yang kuat untuk menyaring segala sesuatu yang sedang mencoba mempengaruhi bangsa ini.
Harus ada dasar yang teguh yang tidak akan mengombang-ambingkan Indonesia.
Inilah yang menjadi buah pemikiran sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kemajemukan adalah kekayaan, namun jika tidak terus ditopang pada suatu landasan yang kuat, kemajemukan dapat menghancurkan. Untuk itulah Indonesia menyatakan Pancasila sebagai dasar negara. Akar karakter bangsa Indonesia adalah Pancasila.
Alhasil, penguatan karakter bangsa berakar dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. 5 sila yang adalah darah daging bangsa yang tidak boleh dianggap remeh. Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, serta Keadilan adalah 5 nilai dasar kehidupan yang membentuk sebuah pribadi sehingga ia dapat dikatakan sebagai pribadi yang berkarakter. Pemahaman yang kokoh pada pancasila adalah alat filter yang kuat terhadap serangan luar dan dalam yang dapat menggoyahkan Indonesia.
Hal ini sudah disadari sejak dulu sehingga muncul mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila akhirnya berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan sekarang namanya menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.
Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
“Tindakan nyata lebih berdampak daripada teori yang indah”
Karakter yang luhur dari seorang guru di dalam kelas, berbicara lebih keras daripada orasi sekelompok massa di depan umum.
Tidak dapat dipungkiri bahwa teori masih berdampak, namun perilaku sungguh lebih mendarat. Apalagi di sekolah dasar. Suatu tindakan sederhana berbicara lebih banyak daripada suatu ceramah yang berlangsung selama berjam-jam. Siswa-siswa di sekolah dasar cenderung lebih memahami sesuatu yang konkret, daripada sesuatu yang abstrak. Pohon yang baik adalah pohon yang menghasilkan buah. Bagaimana kemurnian hati seseorang, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Begitu pula dengan karakter. Baik tidaknya karakter seseorang dapat dilihat dari pilihan kata dan sikap yang benar yang ia tunjukkan dalam kesehariannya.
Penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar hanya dapat terjadi bila seluruh pihak yang tergabung ke dalam lingkungan sekolah sepakat untuk bersama-sama mengaplikasikan nilai luhur Pancasila melalui tutur kata dan tindak-tanduk dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diaplikasikan di sekolah harus selaras dengan lingkungan rumah, sehingga anak dapat melihat contoh nyata berbudi pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kesatuan hati dari setiap pihak, baik sekolah, rumah, dan masyarakat dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila sebagai budaya, maka itu akan menjadi kebiasaan, yang tidak akan menjadi beban untuk diterapkan. Mempraktikkan nilai-nilai Pancasila memang harus dilandasi dengan ketulusan, serta memahami cerita dibalik setiap nilai. Dengan demikian, kita akan memiliki sudut pandang yang benar akan penerapan setiap nilai tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, seyogianya kita terus berjuang untuk menghidupi setiap nilai dalam Pancasila.
Pihak sekolah dan orang tua harus bahu-membahu mencetak generasi berbudi luhur. Bangsa Indonesia bukan milik seorang saja. Bangsa Indonesia adalah milik semua rakyat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Karakter Indonesia yang terkenal ramah, tepa salira, gotong royong dan tenggang rasa harus terus dilestarikan. Karena jika itu tidak dilestarikan hal-hal itu hanya akan menjadi bahan tabu di kemudian hari, yang hanya akan dikonsumsi sebagai dongeng atau cerita fiksi untuk generasi selanjutnya.
Siapa lagi yang mau bertindak kalau bukan dimulai dari kita. Penguatan nilai Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar harus terus kita gumuli bersama. Bangsa ini membutuhkan generasi yang berakhlak mulia. Karena generasi luhur yang berpegang pada kebenaran adalah generasi yang akan membawa cahaya agar bangsa ini tetap memegang teguh identitasnya dan tidak disesatkan oleh pengikisan karakter yang mencoba-coba menggerogoti fondasi bangsa Indonesia.
Hidup Indonesia!




Pencipta yang terus menopang ciptaanNya

Hanya Kau yang menjadi tempat jawaban. Hanya Kau tempatku berharap... Sepenggal lirik yang menguatkan di tengah kesesakan. Terkadang saya mempertanyakan mengapa kesulitan itu Tuhan izinkan terjadi. Namun, dengan apakah iman itu diuji? Bukankah ia akan semakin murni jika ditempa?

Mempertanyakan Pencipta adalah sesuatu yang ironi. Sebenarnya, ketimbang mempertanyakan Pencipta, alangkah baiknya jika kita menggantinya menjadi "Mempercayai Pencipta" namun percaya yang dimaksud ini adalah "Trust"

Seorang ayah tidak akan pernah menelantarkan anaknya. Walaupun dewasa ini ada saja yang menyimpang. Namun, ayah yang benar-benar mengasihi, tidak akan pernah memberi batu pada anaknya, jika ia meminta roti.

Percayalah bahwa Allah tahu yang terbaik. Percaya bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan. Percaya bahwa kita tidak berjuang seorang diri. Percaya bahwa kekuasaanNya mengatasi segala-galanya. Karena Ia adalah Penopang.

"For everything was created by Him, in Heaven and on earth, the visible and the invisible, whether thrones or dominions or rules or authorities- all things have been created through Him and for Him. He is before all things, and by Him all things hold together." (Colossians 1:16-17)

Ajarilah kami terus berserah kepadaMu. Tuntunlah kami dalam pertumbuhan iman ini. Dari hari ke hari, ajarilah kami untuk senantiasa percaya kepadaMu.

Jumat, 06 Oktober 2017

Artikel Ilmiah "Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar"








ARTIKEL ILMIAH

















 

























 Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar















 OLEH

Anastasia Y. Sundah









2017










KATA PENGANTAR


Berlimpah syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menganugerahkan hikmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan artikel ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa artikel ini dapat selesai berkat dukungan dari banyak pihak. Saran dan kritik sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan artikel ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Penulis sangat menyadari bahwa artikel ini masih jauh dengan kesempurnaan. Masukan dari pembaca akan sangat berguna bagi penulis untuk perbaikan artikel ini kedepannya.

Kiranya artikel ini dapat berguna untuk memperkaya wawasan pembaca tentang peran membaca dalam kehidupan khususnya di lingkungan sekolah dasar. Karena budaya membaca adalah budaya yang mencerdaskan bangsa.




Makassar, Oktober 2017




Penulis


















DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………………………1
Kata Pengantar ………………………………………………………………………………2
Daftar Isi …………………………………………………………………………………….3

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ………………………………………………………………………….4
1.2  Identifikasi Masalah …………………………………………………………………….4
1.3  Rumusan Masalah ………………………………………………………………………4
1.4  Tujuan Penulisan ………………………………………………………………………..4
1.5  Manfaat ………………………………………………………………………………….5

BAB II KAJIAN TEORI
2.1  Generasi Masa Kini ……………………………………………………………………...6
2.2  Pengertian dan Peran Membaca …………………………………………………………6
2.3  Budaya Baca di Indonesia ……………………………………………………………….6
2.4  Budaya Baca di Sekolah Dasar …………………………………………………………..7
2.5  Menumbuhkan Minat Baca ……………………………………………………………....7

BAB III METODE PENELITIAN
3.1  Pendekatan Masalah ……………………………………………………………………...8
3.2  Studi Pustaka ……………………………………………………………………………..8
3.3  Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………….8
3.4  Analisis Data ……………………………………………………………………………..8
3.5  Populasi dan Sampel ……………………………………………………………………..8

BAB IV PEMBAHASAN
4.1  Penghambat Tumbuhnya Budaya Baca ………………………………………………….9
4.2  Kiat-kiat Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar ……………………………….9

BAB V PENUTUP
5.1  Kesimpulan ………………………………………………………………………………11
5.2  Saran ……………………………………………………………………………………..11

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………..12
LAMPIRAN: Pertanyaan Kuisioner …………………………………………………………13







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Buku merupakan suatu sumber yang berharga bagi pendidikan. Kita dapat belajar banyak hal dari buku. (History in Living Memory: Education Through the Years, 2015: 21) Buku dapat membawa kita berkeliling dunia. Olehkarena itu tak jarang kita mendengar orang bijak  berkata bahwa melahap buku, berarti kita sedang melahap ilmu. Diberitakan dalam harian Kompas.com dalam artikelnya yang berjudul “Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia” oleh Mikhael Gewati pada 29 Agustus 2017 bahwa “Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi "Most Littered Nation in the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.”

Disisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa generasi saat ini sedang masuk dalam generasi digital, dimana gadget lebih menarik perhatian daripada buku. Dengan gadget, anak-anak dapat bermain game serta membaca artikel-artikel yang sering disajikan dalam bentuk e-book. Hal ini juga terjadi pada orang dewasa. Lama kelamaan tidak lagi memiliki minat kepada buku yang begitu banyak halamannya.

1.2  Identifikasi Masalah
Melihat latar belakang yang ada maka ada 2 masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini, yaitu:
1.      Membaca sangat berdampak dalam kehidupan.
2.      Minat baca yang menurun di Indonesia.

1.3  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada, masalah-masalah tersebut dapat dijabarkan kedalam beberapa pertanyaan, yaitu sbb. :
1.      Bagaimana peran membaca bagi kehidupan khususnya di sekolah dasar?
2.      Apa yang mempengaruhi generasi saat ini sehingga semangat membaca kurang berkembang?
3.      Bagaimana peran orang tua, guru, dan pemerintah dalam meningkatkan minat baca siswa?
(Bagaimana menumbuhkan budaya membaca di sekolah dasar?)

1.4  Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan pembaca tentang peran membaca dalam kehidupan khususnya di lingkungan sekolah dasar, serta mendorong para pembaca untuk menyadari pentingnya menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar. Sebaiknya tidak hanya di tingkat sekolah dasar, namun pada setiap elemen masyarakat. Sangatlah penting untuk menjadikan membaca sebagai budaya bangsa, karena budaya membaca adalah budaya untuk mencerdaskan bangsa. Demi mencapai Indonesia sejahtera, adil, dan makmur.

1.5  Manfaat
Adapun manfaat dari tulisan ini, adalah sbb.:
1.      Menambah wawasan pembaca tentang peran membaca dalam kehidupan.
2.      Menambah wawasan pembaca bahwa menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar adalah kegiatan yang sangat penting.
3.      Sebagai bahan referensi bagi pembaca.
4.      Dapat melatih penulis untuk mengembangkan talenta dalam menyusun buah pikiran secara sistematis dalam bentuk karya ilmiah.


































BAB II
KAJIAN TEORI
2.1  Generasi Masa Kini
Menurut, Hellen Chou Pratama (Cyber Smart Parenting, 2012:35) Sebutan yang paling relevan untuk digunakan pada generasi saat ini adalah “Generasi Digital (Internet Citizen/Netizen)”. Dimana generasi muda pada saat ini tumbuh dan berkembang dengan sebuah ketergantungan besar pada teknologi digital. Lebih jauh ia menambahkan ciri khas generasi masa kini dibagi menjadi 6 ciri (Cyber Smart Parenting, 2012:39-44), yaitu:
1.      Pelahap media, pelibatan media dalam hidup hampir sealamiah menghirup udara.
2.      Multi-tasking, mampu melakukan beberapa hal sekaligus.
3.      Hiper-koneksi, dorongan untuk terhubung dengan baik dalam beberapa sambungan jaringan.
4.      Toleran, terbuka untuk menerima perbedaan.
5.      Tayang-langsung, senantiasa terhubung dalam budaya keterbukaan.
6.      Interaktif, sangat ingin dilibatkan dan terlibat.
Sekarang ini alokasi waktu lebih didominasi oleh gadget daripada buku.

2.2  Pengertian dan Peran Membaca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 2014), membaca adalah melihat isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Sedangkan menurut Cambridge Dictionary (Cambridge University Press, 2012), reading is to look at words and understand what they mean. Sehingga jika digabungkan dapat diartikan bahwa membaca adalah suatu kegiatan untuk mencapai pemahaman dari apa yang tertulis. Awalnya, kita melakukan kegiatan membaca hanya dengan menggunakan buku. Namun setelah perkembangan teknologi, gadget yang awalnya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sekarang sudah bertransformasi menjadi alat multi guna. Sehingga sekarang, jika ingin membaca, kita dapat menggunakan gadget lalu mencari artikel apa yang ingin kita baca.
Membaca adalah kegiatan yang sangat baik. Dalam bukunya, Read to me: Raising Kids Who Love to Read (Bernice E. Cullinan, 2006: 28-29), B. E. Cullinan berkata bahwa “Reading is one of the most liberating thing we can do” Hal yang paling bebas yang dapat kita lakukan adalah membaca. Ia juga menambahkan bahwa membaca dapat mengembangkan kemandirian, memperluas dunia anak, meningkatkan percaya diri, memperkaya dan mengarahkan imajinasi, menambah kosakata, serta mengembangkan kepekaan terhadap orang lain.

2.3  Budaya baca di Indonesia
Pada bulan Maret 2016, Central Connecticut State Univesity melalui kegiatan The World’s Most Literate Nations (WMLN) menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Survei ini menitik beratkan pada kebiasaan membaca dan bagaimana ketersediaan fasilitas yang mendukung dalam kegiatan membaca, seperti kondisi perpustakaan, minat penduduk terhadap koran, bagaimana aktivitas berlajar mengajar, serta ketersediaan komputer. Hal ini sudah menyatakan secara gamblang bahwa budaya baca di Indonesia sungguh memprihatinkan.

2.4  Budaya Baca di Sekolah Dasar
Anak-anak sekolah dasar berada dalam usia 6-12 tahun. Periode usia ini adalah periode dimana anak harus dibekali dengan kemampuan hidup dasar untuk melakukan aktivitas dasar serta sebagai bekal untuk pendidikan selanjutnya. Olehkarena itu penting sekali memilih buku yang dibaca, mengingat perannya yang sangat besar dalam membentuk suatu pribadi. Semua elemen sekolah penting untuk menunjang pertumbuhan anak. Semakin anak gemar membaca, maka semakin siap ia untuk terjun ke jenjang pendidikan selanjutnya.

2.5  Menumbuhkan Minat Baca
Dalam kumpulan artikel kompas yang berjudul “Sekolah, Alternatif untuk Anak” (Sintha Ratnawati, 2002:37) tertulis bahwa, “Pengembangan minat baca pada anak-anak, yang utama dan terutama justru menjadi tanggung jawab orang tua. Alasannya, orang tualah yang berhak menanamkan dan mengembangkan berbagai macam cita-cita kepada anaknya”. Jadi minat baca seharusnya ditumbuhkan dari lingkungan rumah. Setiap insan tidak ada yang lahir dengan minat baca alami yang langsung ada pada dirinya. Minat baca perlu dibentuk. Kegemaran membaca bukanlah faktor keturunan, tetapi harus dididik dan dilatih. Alangkah baiknya bila disetiap keluarga menyiapkan perpustakaan mini yang dapat mengakomodir terciptanya budaya baca di lingkungan rumah.

Peran sekolah dalam menumbuhkan minat baca juga besar. Hal ini dapat dilihat dari kesungguhan guru dalam membimbing siswa sehingga siswa memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ini memancing mereka untuk mencari jawaban dengan membaca buku.

Pemerintah juga sudah melirik tentang budaya baca ini. Berbagai upaya dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Termasuk dengan diadakannya pengiriman buku gratis ke pelosok. Hal ini diinfokan pada Kamis, 18 Mei 2017 09:53 WIB oleh KBR-Jakarta bahwa untuk memperingati Hari Buku Nasional 17 Mei, Presiden Joko Widodo menggratiskan biaya pengiriman buku ke daerah-daerah pelosok setiap tanggal 17. Presiden Joko Widodo bekerjasama dengan PT. Pos Indonesia untuk melaksanakan program ini. Hal ini tak lain pasti untuk menciptakan budaya baca dari Sabang sampai Merauke.













BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Pendekatan Masalah
Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah menelaah permasalahan yang menghambat pertumbuhan budaya baca di sekolah dasar.

3.2  Studi Pustaka
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu dengan cara menggali informasi dari berbagai sumber pustaka seperti buku dan internet.

3.3  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara kuisioner, yaitu memberikan pertanyaan kepada para responden.

3.4  Analisis Data
Setelah data terkumpul dan diolah kemudian dianalisis dengan menggunakan deskriptif. Analisis ini menjelaskan/menggambarkan hal-hal umum yang diperoleh dalam penelitian.

3.5  Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, populasi yang saya ambil adalah siswa-siswi kelas 6, guru-guru, dan staf SD Dian Harapan Makassar. Sampel yang saya ambil adalah 10 orang siswa, 10 orang guru, dan 10 orang staf




















BAB IV
PEMBAHASAN

4.1  Penghambat Tumbuhnya Budaya Baca
Membaca adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Namun, dari wawancara yang dilakukan terhadap responden, berikut ini beberapa hal yang sering kali menghambat mereka untuk membaca.
1.      Kesulitan dalam mengatur waktu
Di lingkungan sekolah, dengan begitu banyaknya administrasi yang harus dilakukan seringkali seorang guru/staf kesulitan untuk mengkhususkan waktunya untuk membaca. Bagi seorang siswa, dengan begitu banyaknya kegiatan yang ia lakukan, sangat sulit untuk mengambil waktu untuk membaca.

2.      Kurangnya kesadaran dari diri sendiri tentang peran membaca dalam kehidupan
Buku-buku yang ada sangat bervariasi. Namun kesadaran diri terhadap pentingnya membaca adalah hal yang sangat mempengaruhi. Seseorang akan membaca, jika buku itu benar-benar mengasyikkan buatnya. Di zaman, jika ingin menemukan informasi, memasukkan kata kunci di google.com adalah yang tercepat dibandingkan dengan pergi ke perpustakaan lalu mencari buku yang sesuai.

4.2  Kiat-kiat Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar
Rajin membaca pangkal kaya. Pepatah ini sangatlah cocok bagi kita, karena semakin banyak membaca semakin banyak ilmu yang tertanam. Lalu bagaimana cara menumbuhkan minat baca tersebut? Berikut ini kiat-kiat yang dapat kita lakukan untuk menumbukan budaya baca di sekolah dasar.

1.      Menciptakan suasana sekolah yang gemar membaca
Suasana sekolah yang mendukung sangat diperlukan dalam menumbuhkan budaya membaca. Berada di lingkungan pecinta buku akan membuat semua orang yang berada di dalamnya mencintai buku. Ada beberapa program yang dilakukan untuk benar-benar mengkondisikan semua elemen sekolah agar membaca. Awalnya ini sulit. Namun diakhir program itu dapat dirasakan bahwa ternyata membaca itu sangat menyenangkan, karena pembaca masuk ke dalam bacaan.

Tak dapat dipungkiri bahwa siswa melihat teladan yang diberikan oleh guru. Jika guru rajin membaca, maka siswa akan rajin membaca. Begitu pula sebaliknya. Disisi lain, staf yang rajin membaca akan memperkaya wawasan diri sehingga akan sangat berguna untuk menunjang produktivitas kerja.

2.      Adanya kerjasama antara guru dan orang tua
Orang tua adalah pendidik anak yang utama. Dalam artikel Gemar Membaca, Keluarga Sejahtera yang diterbitkan oleh Kompas pada 8 Januari 1995 dikatakan bahwa “Mendorong anak gemar membaca memang mensyaratkan kebersamaan orang tua sejak dini. Bahkan sejak anak masih dalam kandunga, seyogianya ibu mulai suka membacakan cerita bagi janinnya.” Guru dan orang tua harus bekerjasama dalam mendorong tumbuhnya budaya membaca.

3.      Terus memandang pada nilai dari budaya membaca
Perjalanan yang berfokus pada tujuan adalah perjalanan yang terarah. Menjadikan membaca sebagai budaya pasti tidak mudah. Namun jika terus fokus pada nilai yang dihasilkan dari kegiatan membaca maka membaca bukan menjadi momok yang menakutkan, namun setiap insan pasti akan menikmatinya. Penting untuk mengingat diri sendiri minimal membaca 20 menit per hari untuk memperkaya informasi.


































BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
Membaca adalah kegiatan sederhana dengan segudang manfaat. Karena dengan membaca, kita dapat mengembangkan kemandirian, memperluas dunia anak, meningkatkan percaya diri, memperkaya dan mengarahkan imajinasi, menambah kosakata, serta mengembangkan kepekaan terhadap orang lain.

Olehkarena itu, sangatlah penting untuk menjadikan membaca sebagai budaya kita di lingkungan sekolah bahkan di Indonesia, karena budaya membaca akan sangat mendukung pembelajaran dan intinya untuk mencetak generasi unggulan untuk melanjutkan tongkat estafet pembangunan Indonesia.

5.2  Saran
Diharapkan agar setiap elemen dalam lingkup sekolah dasar dapat:
1.      Menciptakan suasana yang mendukung terciptanya budaya membaca.
2.      Terus bekerjasama dengan orang tua dalam menumbuhkan budaya membaca.
3.      Terus melihat besarnya manfaat yang akan diperoleh dari kegiatan membaca.
























DAFTAR PUSTAKA

·         Cambridge University Press. 2012. Cambridge Learner’s Dictionary Fourth Edition. Italy: L. E. G. O. S. p. A
·         Cullinan, Bernice E. 2006. Read to Me: Raising Kids Who Love to Read. U.S.A: Scholastic
·         Departemen Pendidikan Nasional. 2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
·         Lewis, Claire. 2015. History in Living Memory: Education Through the Years. China: Leo Paper Group
·         Pratama, Hellen Chou. 2012. Cyber Smart Parenting. Bandung: PT. Visi Anugerah Indonesia
·         Ratnawati, Sintha. 2002. ‘Sekolah’ Alternatif untuk Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
·         Yuniarti, Ninik. 2017. Jokowi Gratiskan Biaya Pengiriman Buku ke Daerah Pelosok Lewat PT. Pos Indonesia. (online). http://kbr.id/berita/nasional/05-2017/jokowi_gratiskan_biaya_pengiriman_buku_ke_daerah_pelosok_lewat_pt_pos_indonesia/90222.html. (diakses pada 5 Oktober 2017)
·         Gelawati, Mikhael. 2016. Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia. (online). http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia. (diakses pada 5 Oktober 2017)















LAMPIRAN
KUISIONER BUDAYA BACA di SEKOLAH DASAR
Keterangan pilihan jawaban:
SS           = Sangat setuju
S              = Setuju
TS           = Tidak Setuju
STS         = Sangat Tidak Setuju
Berilah tanda centang (Ö) pada pilihan jawaban yang kamu setujui!
No.
Pernyataan
Pilihan Jawaban
SS
S
TS
STS
1
Membaca dapat memperkaya wawasan karena membaca dapat menambah ilmu.




2
Penting sekali untuk menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar.




3
Dalam sehari, saya memiliki waktu khusus untuk membaca.




4
Buku yang baik akan menuntun kita menjadi pribadi yang baik.




5
Suasana sekolah yang nyaman akan meningkatkan minat saya dalam membaca.




6
Budaya membaca di Indonesia sudah sementara bertumbuh.




7
Saya lebih memilih membaca dengan menggunakan buku daripada menggunakan gadget.




8
Guru adalah teladan saya dalam membaca. (Guru mempengaruhi tumbuhnya minat baca)




9
Orang tua mempengaruhi tumbuhnya minat baca.




10
Pemerintah berperan dalam bertumbuhnya minat baca di sekolah dasar